Senin, 24 Juni 2019

Sejarah Sidik Jari

Salah satu aspek paling menarik dari ilmu forensik adalah identifikasi sidik jari, yang memainkan peran penting dalam memberikan terobosan dalam beberapa kasus kejahatan. Setiap manusia memiliki pola sidik jari yang unik dan berbeda yang berfungsi sebagai tanda identifikasi untuk orang tersebut.


Sidik jari membantu lembaga penegak hukum untuk menemukan dan menangkap penjahat berdasarkan sidik jari yang mereka temukan di TKP. Praktek mengidentifikasi manusia berdasarkan sidik jari sudah lama digunakan, dan sejarahnya yang menakjubkan adalah buktinya.

Sebelumnya, petugas kepolisian akan mengumpulkan sidik jari dan menganalisanya secara manual ― praktik yang memakan waktu beberapa hari. Saat ini, sidik jari hanya dipindai dan dimasukkan ke dalam komputer, yang pada gilirannya menganalisisnya dalam sekejap.

Penggunaan Pertama Sidik Jari
Penggunaan sidik jari untuk identifikasi dapat ditelusuri kembali ke sekitar 1885 - 1913 SM, di mana sidik jari diambil pada tablet tanah liat basah sebagai bukti validitas transaksi bisnis di Babylonia.

Proses serupa diikuti di Cina pada 246 SM, namun sidik jari diambil di atas kertas setelah mencelupkan jari-jari ke dalam tinta. Budaya lain juga menerima tren menggunakan sidik jari sebagai tanda tangan untuk memvalidasi dokumen untuk mengurangi kasus penipuan.

Sidik jari dalam Ilmu Forensik
Meskipun praktik ini dapat ditelusuri kembali ke beberapa abad, penggunaan sidik jari dalam ilmu forensik baru dimulai pada abad ke-19. Pada 1858, seorang administrator Inggris di India, Sir William Herschel memperkenalkan praktik mengambil sidik jari penduduk setempat dengan maksud mengurangi jumlah penipuan dalam transaksi bisnis.

Saat praktik berlanjut, cetakan telapak tangan digantikan oleh sidik jempol, dan hal yang sama diperkenalkan di departemen lain, dan yang paling penting adalah di lembaga penegak hukum.

Pengenalan Sistem Klasifikasi Sidik Jari
Pada tahun 1874, Dr Henry Faulds, seorang misionaris Skotlandia yang bekerja di Jepang, menyadari bahwa pola sidik jari tidak berubah. Dia mengemukakan bahwa pola canggih sidik jari individu tidak rentan terhadap perubahan karena cedera dangkal.

Atas perintah Faulds dan Charles Darwin, sepupu Darwin, Sir Francis Galton mengambil tanggung jawab untuk mengembangkan sistem klasifikasi sidik jari. Dia mengumpulkan sekitar 8000 sampel sidik jari dan menganalisisnya, sebelum akhirnya muncul dengan sebuah buku berjudul Fingerprints , di mana ia memperkenalkan sistem klasifikasi sidik jari pada tahun 1892.

Penggunaan Pertama Sidik Jari untuk Memecahkan Kasus
Sementara Sir Francis Galton sedang mengerjakan klasifikasi sidik jari, seorang perwira polisi Argentina, Juan Vucetich sedang mengerjakan kemungkinan menggunakan sidik jari untuk menangkap penjahat. Dia menyebut proses identifikasi sidik jari ini sebagai 'dactyloscopy komparatif'.

Pada tahun 1892, ia sedang mengerjakan sebuah kasus yang melibatkan pembunuhan dua anak laki-laki. Tersangka utama adalah kekasih ibu korban. Namun, penyelidikan Vucetich mengungkapkan bahwa sidik jari yang ditemukan di TKP adalah milik ibu itu sendiri, dan bukan kekasihnya seperti yang diduga. Ini adalah penggunaan sidik jari pertama untuk memecahkan misteri.

Sistem Klasifikasi Henry
Komisioner Kepolisian Metropolitan London, Sir Edward Henry cukup terinspirasi oleh fakta bahwa sidik jari dapat digunakan sebagai bukti untuk menangkap penjahat. Dia menerapkan praktik ini untuk digunakan di wilayah yurisdiksinya, dan secara bersamaan mulai bekerja pada sistem klasifikasinya sendiri berdasarkan pada sistem klasifikasi Sir Galton.

Dia menyadari bahwa karakteristik dasar dari sidik jari seperti arah, aliran, dan pola dapat membuatnya lebih mudah untuk membedakan satu sampel sidik jari dari yang lain.
Ini menjadikan sistem klasifikasi Henry metode klasifikasi sidik jari yang paling disukai di dunia. Pada 1901, Scotland Yard memiliki Biro Sidik Jari sendiri, yang hanya berspesialisasi dalam identifikasi sidik jari.

Munculnya komputer pada tahun 1970-an membuat sidik jari lebih mudah, karena proses elektronik membutuhkan waktu lebih sedikit dan menghasilkan kecocokan yang akurat. Badan Kepolisian Nasional Jepang memperkenalkan sistem pencocokan sidik jari elektronik pertama, Sistem Identifikasi Sidik Jari Otomatis (AFIS) pada tahun 1980-an.

Ini mengintegrasikan beberapa lembaga penegak hukum di seluruh dunia, sehingga memungkinkan untuk mencocokkan sidik jari yang ditemukan di TKP dengan jutaan sampel sidik jari di seluruh dunia.

Pada tahun 1999, Divisi Layanan Informasi Peradilan Pidana FBI memperkenalkan Integrated AFIS (IAFIS), sistem identifikasi sidik jari yang lebih canggih, yang memiliki kemampuan untuk mencari dan mencocokkan sidik jari di seluruh dunia hanya dalam 30 menit.
Baca Juga